"Aku Temukan Lagi Mata Air Itu"



Terdapat beberapa hal tidak tersangka, seolah-olah tiba, lalu pergi tiba-tiba, setiba-tiba, melenyap, menyirna. Lalu sepi, sunyi senyap, ngawang tidak berawan, tidak ada harapan, seperti barusan, dilahirkan, waktu mengubah cuaca sepintas secepat berkedip.


Postingan seputar judi game slot online Sekedip juga belum sanggup, membersihkan kaki ibu, prima menjaga, ananda, walau berulang-kali menyanggah tidak ingin tidur siang, berjuta kali fakta, sebab ananda cenderung pilih main kelereng, cenderung pilih memburu layang-layang, berlarian semakin kesini main petak umpet sepulang sekolah.


Untuk ayah, terkasih, terus meluangkan perhatian walau sesibuk apa saja, di ruang-ruang kompetisi era, kesabaran, ya, kesabaran, menuntun ananda, mengakhiri pekerjaan rumah dari sekolah, bercakap mengenai beberapa pilihan, jika nantinya lulus kelak, pengin semacam apa, ingin ke mana.


Belum membenahi pranata hati, secerah ke-2 orangtua ananda, menghidupkan pelita di hati, gaib semesta minta pulang kedua-duanya, searah posisi jarum jam selanjutnya, satu-satu, sinar, menjemput ke-2 orangtua tercinta di hati.


Tersergap rasa-gelap gulita, berasa pelita menurun, tidak sanggup rasa, cari mata air sudah sublim bersatu dengan sinar ilahi. Cuman doa tiada batasan, harapan raib di ufuk kabut, tulus bertabur khusyuk, dalam sujud sesal-ananda, belum berkedip, ayah-bunda sesaat berpulang, sesingkat tidak berasa sudah berkembang ananda di umur sekarang.


Dalam kutub era, seperti masuk di gilingan kopi, terbolak-balik, tersuruk-sungkur, jumpalitan terjangan badai, sampai terlibat di genteng rumah beberapa teman dekat Kompasiana, sangat ramai keriangan di bawah atap ini, siapakah mereka, dengan tata laris teratur keceriaan cerita-kisah tercatat. Di 27 Desember 2012, hamba membulatkan tekad mengetuk pintu rumah meriah taman bunga bermekaran.


"Tok! Tok!"


"Ya! Silahkan masuk."


Tidak ada tulisan 'awas anjing galak', tidak ada harimau mengaum, bersatulah hamba di Rumah Cinta Kompasiana, mengalir panggilan, mengalir keceriaan. Mengalir juga deraan badai hidup individual, hamba terguncang-guncang, tertatih-tatih, seringkali lenyap dari K, muncul-hilang.


Kembali lagi membenahi hati "Minta maaf ya Admin Kompasiana, jika beberapa lalu, hamba kurang berkanan di hati Admin", salam kebaikan terus.


Selang beberapa waktu hamba jadi keluarga di Rumah Cinta Kompasiana, antara tulisan-tulisan berkebyaran, hamba menyaksikan figur simpel, Pak Tjiptadinata Effendi, singkat kata, tidak lekang oleh waktu, bermacam artikel beradab terus mengalir dari beliau di Kompasiana.


Di saat selanjutnya, hamba tidak tahan lagi tidak untuk panggilnya 'Ayah', hamba beranikan diri menegur beliau dengan 'Ayah', demikian juga dengan Bunda Rose, hamba berlega hati, dari jawaban beliau, saat, kata itu, dituliskan oleh, Ayah Tjip serta Bunda Rose, "Ananda Taufan..."


Hamba terbang kesurga 'mata air sudah raib hamba dapatkan lagi', terima kasih ke Ayah Tjip serta Bunda Rose, berikut hamba seperti ada, dengan semua kekurangan dan kebatasan hamba. Terima kasih Tuhan, hamba punyai Ayah serta Ibu lagi. Sungkem.