Resensi Buku: Tentang Yesus Kristus

 



Individu Yesus Kristus adalah hal yang sentra dalam agama Kristen. Faktanya jelas yaitu sebab Yesus Kristus dipercaya jadi pendiri agama Kristen. Kristen berawal dari kata Kristus (yang diurapi) serta orang Kristen mengikut semua tuntunan dari Yesus Kristus sendiri.


Dr. Adrianus Sunarko coba membahas lebih dalam mengenai individu Yesus Kristus yang dia kumpulkan dalam bukunya yang berjudul "Kristologi_ Pantauan Bersejarah-Sistematik". Buku ini jadi menarik mengingat penulisnya ialah seorang Uskup, yakni Uskup untuk Keuskupan Pangkal Pinang.


Keliatannya buku ini diciptakan waktu informasi keterpilihannya jadi Uskup. Itu rupanya dari tahun bikin buku ini yang bertepatan dengan tahun pentahbisannya jadi Uskup yakni tahun 2017.


Isi dari buku ini tidak lain tidak bukan adalah bahan kuliah yang dia beri saat dia jadi dosen Kristologi di STF Driyarkara, Jakarta untuk program S-1.


Dengan begitu, buku ini mendapatkan keasliannya dari pribadinya yang sebagai pendidik penting dalam satu keuskupan dan pengalamannya sepanjang jadi dosen. Saat menyaksikan buku ini dan mengenal dengan pengarangnya, pasti mengundang pembaca untuk selekasnya memiliki.


Yesus: Benar-benar Allah Benar-benar Manusia


Seperti yang sering kali jadi pembicaraan teologis mengenai individu Kristus yang benar-benar Allah benar-benar manusia, penulis coba memberikan satu keterangan. Dia memulainya dengan landasan biblis jadi rujukan penting iman.


Menurut dia, "landasan biblis untuk pahami kemanusiaan Yesus dengan memahami kebatasan pengetahuan Yesus" (hlm. 30): Yesus tidak paham siapakah yang menjamah jubahnya (Mrk 5:28-33), Yesus salah menyebutkan nama imam agung di saat Daud masuk Bait Suci.


Yesus menyebutkan nama imam itu ialah Abyatar walau sebenarnya yang sebenarnya ialah Ahimelek (Mrk 2:26 bdk 1 Sam 21:2-7). Bukan Zakharia anak Berekhya yang dibunuh antara tempat kudus serta mezbah tapi Zakharia anak Yoyada (Mat 23:35; bdk 2 Taw 24:20), Yesus mengandaikan jika Mzm 110 berawal dari Daud (Mrk 12:36).


Pengandaian ini tidak disokong oleh riset terhebat saat ini serta Yesus tidak paham akan parusianya (Mrk 13:32). Secara singkat, sesaat Yesus sering kali memperlihatkan kelebihan pengetahuan dan kuasa spesial dalam pahami Kitab Suci yang membuat Dia diakui jadi Guru, Nabi, Mesias serta lebih dari itu, tetapi kemanusiaannya selalu terlihat dari banyak kebatasan.


Mengenai ke-Allah-an Yesus, penulis menjelaskan jika Kitab Suci tidak menunjukkan dengan eksplisit. Ada teks-teks yang kelihatannya mengatakan jika panggilan "Allah" tidak dipakai untuk Yesus.


Teks-teks itu seperti ada dalam Mrk 10:18, ("Jawab Yesus: "Kenapa kaukatakan Aku bagus? Tidak seorang juga yang bagus kecuali dibanding Allah saja. "), Mrk 15:34 (Berserulah Yesus..: "Allahku, Allahku, kenapa Engkau tinggalkan Saya? "), Yoh 20:17 ("Saat ini Saya akan pergi ke Bapa-Ku serta Bapamu, ke Allah-Ku serta Allahmu. "), serta Ef 1:17 ("Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yakni Bapa yang mulia itu").


Tetapi, ada pula beberapa text yang memakai panggilan "Allah" untuk Yesus dengan jelas atau memungkinkan: seperti ajakan dari Rasul Tomas saat Yesus memperlihatkan Diri padanya, "Ya, Tuhanku serta Allahku" (Yoh 20:28), "Firman itu ialah Allah" (Yoh 1:1), "kita ada dalam Yang Betul, dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Ia ialah Allah yang betul serta hidup yang abadi" (1 Yoh 5:20).


Dalam ketidaksamaan ke-2 barisan teks-teks itu, penulis memberi simpulan jika "di step awalnya gereja, pemakaian panggilan Allah terlihat masih dipastikan oleh adat Yahudi, hingga memahami Allah begitu ketat untuk dapat digunakan untuk Yesus; cuman digunakan untuk Allah, Bapa Yesus Kristus.


Tapi makin lama, orang Kristen pahami Allah jadi panggilan yang makin luas. Mereka menyaksikan jika Allah mengatakan banyak sekali mengenai diri-Nya dalam Yesus, hingga Allah harus bisa meliputi baik Bapa atau Anak" (hlm. 38).


Ini memicu jawaban atas pertanyaan apa Yesus sempat menjelaskan dengan cara langsung jika Dia ialah Allah. Jawabnya ialah tidak. Faktanya ialah di era Yesus panggilan Allah cuman ditujukan ke Allah orang Israel yang sudah melepaskan mereka dari penjajahan Bangsa Mesir serta Yesus sendiri menyembah-Nya jadi Abba, Bapa.


Postingan seputar judi game slot online Maka dari itu, bila kira-kira di era-Nya Yesus langsung menyebutkan diri-Nya jadi Allah, karena itu ada sangkaan jika Dia akan selekasnya tidak diterima hingga misi-Nya juga mendapatkan kesusahan yang bermakna.


Sebenarnya Yesus belum pernah menyebutkan diri-Nya jadi Allah. Tetapi dari seluruhnya kreasi serta tuntunan yang Dia beri pada saat itu membuat orang mulai pikirkan mengenai identitas Yesus yang sebenarnya.


Dalam relasi-Nya dengan manusia, Yesus ialah kepenuhan wahyu Allah serta Penyelamat. Penulis mengatakan begitu: "di 1 faksi, sebab pewahyuan itu adalah pewahyuan Diri Allah sendiri, karena itu mediumnya seperti subjeknya (Allah) sebaiknya memiliki sifat ilahi.


Di lain faksi, sebab pewahyuan itu ialah pewahyuan kasih Allah ke manusia, karena itu seharusnya pewahyuan itu dikerjakan atau dikatakan oleh juga manusia. Ke-2 kriteria itu dipenuhi dengan apakah yang kita ucap Kejadian Yesus Kristus sebab Yesus ialah benar-benar Allah serta benar-benar manusia" (hlm. 58).


Kehadiran Yesus di dunia memunculkan kepenuhan pengharapan akan hadirnya Kerajaan Allah: Dia mengembalikan atau sangat mungkin rekanan dengan Allah (pengampunan dosa), Yesus menaklukkan kuasa kejahatan (pembebasan dari kuasa berhala), merealisasikan solidaritas yang solider, perselisihan, kesengsaraan sampai meninggal dunia di Salib serta kebangkitan-Nya.


Cerita hidup Yesus itu memperlihatkan siapakah Allah itu sebetulnya yakni Deus humanissimus, jadi Kasih tiada ketentuan yang melepaskan. Disamping itu, cerita Yesus mewahyukan ke kita tentang siapakah manusia itu sebetulnya, yakni seperti Dia memperlihatkan jalinan yang erat dengan Allah karena itu demikian pulalah semestinya kita manusia.


Hidup manusia didasari di indikatif kelompoks kasih: Allah ialah Kasih serta, dalam Yesus Kristus, telah lebih dulu menyayangi kita. Maka dari itu karena itu kita bisa saja untuk menyayangi. "Yesus ialah Pola dari kemanusiaan eskatologis" (hlm. 55).


Diputuskan dalam Konsili


Dogma mengenai Yesus Kristus jadi Allah serta Manusia dirumuskan tidak sekali selesai. Perumusan itu berlangsung dalam tiap konsili yang memberikan jawaban atas masalah tuntunan imam yang berlangsung. Penulis mengutarakan jika ada 7 konsili ekumenis yang pertama kali yang berlangsung, yakni Konsili Nikea I (19 Juni-25 Agustus 325), Konsili Konstantinoperl I (Mei-30 Juli 381), Konsili Efesus (22 Juni-September 431), Konsili Kalsedon (8 Oktober-Awal November 451), Konsili Konstantinopel II (5 Mei-2 Juni 553), serta Konsili Konstantinopel III (7 Nov 680-16 September 681), serta Konsili Nika II (24 September-23 Oktober 787).


Ada refleksi kristologis yang perlu dari seluruhnya konsili di atas. Pertama kali, menjaga baik keilahian atau kemanusiaan Yesus Kristus yang bermotifkan untuk keselamatan manusia. Ke-2 , terkait dengan iman, jika Yesus Kristus benar-benar ilahi: Bagaimana rekanan di antara Bapa serta Logos ilahi yang sama abadi? Konsili Nikea I menjawab yakni jika kedua-duanya sehakikat (homoousios).


Ke-3 , terkait dengan kepercayaan iman jika Yesus Kristus sekalian ilahi serta manusia: bagaimana rekanan di antara yang ilahi serta yang manusia pada sebuah Yesus Kristus? Konsili Kalsedon menjawab yakni jika 2 kodrat bersatu pada sebuah hypostasis/individu ilahi.


Ke-4, jika konsep kesatuannya ialah hypostase/ individu ilahi, bagaimana kemanusiaan Yesus Kristus masih benar-benar dipertahankan? Konsili Konstantinopel III menjawab, yakni jika Yesus Kristus mempunyai tidak cuma 1 tetapi 2 kehendak yakni kehendak manusiawi serta ilahi.


Inkarnasi serta Keselamatan


Memahami mengenai Yesus Kristus diperjalanan waktu berubah dari dunia Yunani ke budaya Latin-Roma yang makin memiliki sifat yuridis. Perubahan ini pasti menyebabkan ketidaksamaan memahami mengenai Yesus Kristus jadi penyelamat.


Budaya Yunani menyaksikan pengamanan jadi proses pengilahian kodrat manusia yang telah menyimpang lewat proses mimesis. Pengilahian ini kembalikan kodrat manusia ke maksudnya yakni yang ilahi. Disamping itu, budaya Latin pahami pengamanan jadi pemulihan kembali lagi kodrat manusia yang sudah dirusakkan oleh manusia tersebut sebab menyalahi satu hukum.


Teori yang sering kali ada dalam budaya Latin ini adalah mengenai "Cur Deus Homo" (Kenapa Allah jadi manusia). Anselmus dari Canterburry menjelaskan jika Allah jadi manusia untuk keselamatan manusia itu sendiri; "Allah sudah jadi manusia serta karena kematian-Nya kehidupan diberi kembali lagi ke dunia".


Anselmus pahami Allah jadi summum bonum (kebaikan paling tinggi) serta semakin besar dari Ia tidak dapat dipikir atau quo maius cogitari nequit (tapi Ia selalu semakin besar daripada yang bisa dipikir).


Semakin tinggi target dosa karena itu semakin tinggi atau berat pulalah dosa itu. Manusia berdosa pada Allah. Itu bermakna target dosa dari manusia ialah tinggi sekali sebab Allah sendiri ialah Yang Paling tinggi.


Apakah yang diberi jadi silih ke Allah sebaiknya semakin besar dari segala hal yang bukan Allah. Serta itu tidak lain dari Allah sendiri. Maka dari itu Anselmus menjelaskan jika Allah jadi manusia untuk penebusan dosa manusia.


Tetapi pertanyaan yang selanjutnya ada. Apa bila manusia tidak berdosa karena itu Allah tidak berinkarnasi? Thomas Aquinas menjelaskan jika de fakto inkarnasi adalah jawaban Allah pada perlakuan manusia.


Untuknya, dibutuhkan pendamai serta penebus untuk selamatkan ciptaan yang jatuh dalam dosa. Fakta ini mendapatkan perubahan yang selanjutnya dari Bonaventura. Dia menjelaskan jika inkarnasi tidak hal suatu hal yang baru dipikir Allah setelah manusia berdosa. Semenjak abadi Allah telah mempertimbangkan keruntuhan manusia dalam dosa.


Allah tidak mempredestinasi inkarnasi sebab atau sesudah manusia berdosa, sebab jadi kreasi Allah yang paling besar inkarnasi harus diinginkan untuk dirinya, namun de fakto memang inkarnasi juga sekaligus bermakna penebusan dosa. Hal yang seirama ada dari pertimbangan Yohanes Duns Scotus. Dia menjelaskan jika Putra Allah akan tiba ke dunia, tidak jadi penebus bila kalau manusia tidak berdosa.


Untuk Scotus, penciptaan dunia, manusia serta malaikat adalah penyiapan untuk inkarnasi. Yesus ialah arah dari penciptaan: manusia akan berpadu dengan individu ilahi ke-2 (Putra) serta dengan begitu terjadi pembaruan kodrat manusia yakni manusia yang sanggup menjawab kasih Allah. Berarti, baru dalam Yesus Kristuslah kesempurnaan jawaban kasih terwujud.


Pantauan Bersejarah-Sistematik


Banyak analisis kristologis yang dibahas dalam buku yang berhalaman 228 ini. Penulis menyentuh masalah diskusi berlagakma di mana manusia jadi pusat penghormatan paling tinggi.


Penulis mengatakan begitu, "tiap orang, entahlah termasuk juga barisan sendiri atau mungkin tidak, disegani jadi manusia" (hlm. 119).. Disamping itu, penulis menyentuh masalah Teologi Pembebasan serta Teologi Feminis.


Ke-2 saluran teologi ini sama-sama terkait sebab "beberapa ciri yang ada pada teologi pembebasan kita dapatkan juga dalam teologi feminis" (hlm. 150). Ke-2 alirang itu sama pengin menghapuskan kesengsaraan yang disebabkan oleh ketidakadilan yang dilaksanakan oleh beberapa pemerintahan serta kekuasaan yang tiba dari budaya seksisme (patriarkhi serta androsentrisme).


Demikian buku ini ditelaah dengan bersejarah serta struktural. Bila akan pahami buku ini lebih dalam dibutuhkan perhatian yang serius (bukan hanya membacanya).


Perlu membawa juga pengetahuan-pemahaman kristologi yang kita punya untuk selanjutnya dapat dikonfrontasikan ke penjelasan yang berada di dalamnya. Satu kali lagi buku ini adalah diktak perkuliahan yang disalin menjadi lagi satu buku. Maka dari itu karakternya pasti benar-benar informatif serta di sini kita dapat membahasnya dengan cermat.


Buku ini penting dibaca oleh beberapa mahasiswa yang secara eksklusif memahami pengetahuan teologi, tetapi belum tertutup peluang untuk beberapa orang memiliki iman yang lain yang akan kenal mengenai individu Yesus Kristus serta bagaimana pembicaraan-perdebatan yang berlangsung tentang-Nya.


Namun, bila membaca buku ini kita jangan demikian saja terima isi pertimbangan atau refleksi dari figur tiada mengkonfrontasikannya di tuntunan sah gereja.